
Gumpalannews.com, SIMEULUE – Ada yang menarik dari pelaksanaan jum'at kali ini, di Masjid Tgk. Khalilullah Kabupaten Simeulue. Biasanya, yang mengisi khutbah jum'at adalah para ustadz-uztad beken, baik yang ada di Simeulue. Maupun dari luar daerah.
Namun, kali ini suasananya berbeda. Yang menjadi khotibnya adalah Ketua
DPRK Simeulue. Ternyata, Ketua DPRK Simeulue Rasmanudin H Rahamin, tidak hanya jago memimpin rapat diruang sidang. Tapi juga keren menyampaikan khutbah.
Gaya penyampaiannya yang sangat jelas dan lantang. Membuat tim redaksi Gumpalan tertarik untuk menulis ulang isi khubatnya, yang kemudian ditayangkan di Gumpalannews.com.
Adapun judul khutbah Ketua DPRK Simeulue adalah "Menjaga dan Merawat Permaian di Aceh,".
Berikut ulasannya:
“Pada kesempatan yang mulia ini, khatib ingin mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk merenungkan kembali sebuah nikmat yang sangat besar yang telah Allah berikan kepada kita, khususnya masyarakat Aceh, yaitu nikmat perdamaian,”kata Rasman dalam khutbahnya. Jum’at, (15/08/2025).
“Marilah kita terus memperkuat tekad dan niat kita untuk menjaga perdamaian ini dengan tulus. Jangan biarkan provokasi, kepentingan sesaat, dan ambisi pribadi menghancurkan apa yang telah kita bangun bersama. Jika ada perbedaan di antara kita, mari kita selesaikan dengan musyawarah, dialog, dan hikmah, bukan dengan kekerasan atau kebencian,”lanjutnya.
Dalam khutbahnya, Rasman mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim).
Aceh, tanah yang kita cintai ini, telah mengalami masa-masa kelam dalam sejarahnya. Aceh mengalami konflik bersenjata selama hampir tiga dekade, yaitu antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia.
Puluhan tahun konflik bersenjata telah merenggut nyawa, merusak rumah tangga, infrastruktur, menghancurkan ekonomi, serta meninggalkan luka sosial yang mendalam. Ketidakadilan, kemiskinan, dan ketimpangan pembangunan menjadi bahan bakar konflik tersebut.
“Namun, atas izin Allah SWT dan melalui ikhtiar bersama, kita menyaksikan lahirnya Perjanjian Damai Helsinki pada tahun 2005 yang menjadi titik balik bagi rakyat Aceh untuk bangkit dan memperbaiki kehidupan,”kata Rasman dalam khutbahnya.
Kini, setelah hampir dua dekade perdamaian berjalan, Aceh mulai bangkit. Namun, jika akar permasalahan tidak ditangani dengan serius, seperti ketimpangan ekonomi, korupsi, diskriminasi, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan, benih-benih konflik bisa saja tumbuh kembali.
Ingatlah, jamaah sekalian, perdamaian bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja tanpa ada usaha apapun. “Ia adalah amanah dari Allah SWT yang harus kita upayakan dan rawat secara bersama-sama,”jelasnya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al- Hujarat ayat 10: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat,"terangnya.
Selain perintah agama, jelas Rasman, ada beberapa alasan mengapa perdamaian perlu dijaga. Pertama, perdamaian dapat lebih menjamin masa depan generasi muda. Anak-anak Aceh berhak tumbuh di lingkungan yang damai, bersekolah tanpa rasa takut, dan bercita-cita tanpa batas.
“Perang telah mencuri masa lalu sebahagian dari kita, jangan sampai merampas masa depan mereka pula,”ujarnya.
Kedua, perdamaian merupakan prasyarat untuk menumbuhkan ekonomi dan kesejahteraan. Investasi dan pembangunan hanya bisa berjalan di wilayah yang stabil. Perdamaian menciptakan iklim kondusif bagi pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan.
Ketiga, perdamaian juga membuka ruang bagi rakyat Aceh untuk membangun identitas kolektif yang baru, positif, inklusif, kuat, dan membanggakan, bukan identitas yang terjebak dalam jurang trauma dan kekerasan masa lalu.
Keempat, perdamaian adalah prasyarat terjalinnya ukhuwwah dan keutuhan bangsa, terutama ukhuwwah Islamiyah. Apalagi Aceh adalah bagian penting dari Indonesia, baik secara sejarah, budaya, maupun geopolitik.
“Menjaga perdamaian di Aceh berarti juga menjaga keutuhan dan stabilitas nasional,”kata Rasman.
Di akhir khutbahnya, Rasman mengatakan, Islam tidak pernah memuliakan permusuhan. Islam mengajarkan bahwa ketika ada ruang untuk damai, kita diperintahkan untuk menerimanya dengan lapang dada dan penuh keikhlasan.
“Rasulullah SAW sebagai teladan kita juga telah mencontohkan bagaimana membangun peradaban dengan dasar perdamaian. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda: "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya disakiti." (HR. Muslim),”jelasnya.
Mari kita renungkan pula sabda Nabi Muhammad SAW yang sangat sederhana namun dalam maknanya: "Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kalimat ini pendek, tapi bermakna besar karena salam adalah simbol damai, simbol niat baik, simbol bahwa kita tidak ingin menyakiti satu sama lain.
“Salam yang selalu kita ucapkan kepada sesama muslim juga adalah simbol perdamaian. Bila kita mengucapkan “Assalamu'alaikum” dengan hati yang tulus, itu berarti kita menjanjikan kepada saudara kita, bahwa kita tidak akan menyakitinya, baik dengan tangan, lisan, maupun pikiran. Lalu mengapa sebahagian dari kita tega berbuat sebaliknya?,”kata Rasman.
Kini, tugas besar kita adalah merawat perdamaian di Aceh. Jangan sampai perpecahan lama muncul kembali dalam bentuk baru, yaitu politik identitas, fitnah, hasutan, korupsi, kesenjangan social, bahkan peperangan.
Seluruh elemen harus bekerja sama, pemerintah harus bekerja keras mensejahterakan rakyat, ulama harus menyejukkan, masyarakat harus bijak, pemuda harus menjadi agen perubahan, bukan agen kebencian, dan penegak hukum harus adil.
“Jangan biarkan perdamaian ini retak karena kelalaian kita sendiri,”katanya.
Rasman menambahkan, walaupun konflik bersenjata telah berhenti, tantangan belum usai. Banyak tantangan dan masalah yang perlu kita terus hadapi bersama dan mencoba untuk menyelesaikannya, seperti belum terimplementasinya butir-butir MoU Helsinki secara penuh, ketimpangan dalam distribusi kekayaan dan hasil alam, maraknya korupsi, dan dinamika politik yang terkadang memecah belah masyarakat.
“Kita berharap Pemerintah Pusat dan Daerah terus dapat menjaga komitmen bersama dalam menjalankan kesepakatan damai atas dasar keadilan dan transparansi,”papar Rasman dalam khutbahnya.
Tidak hanya itu kata dia, Pemerintah harus komitmen menjalankan semua butir perjanjian damai yang telah disepakati. Masyarakat sipil dan tokoh adat juga perlu memperkuat peran mereka dalam menggalakkan dialog, rekonsiliasi, dan pendidikan damai.
Generasi muda Aceh harus didukung agar ikut aktif dalam pembangunan sebagai agen perubahan ke depan.
“Media juga harus memainkan peran konstruktif dalam menyebarkan narasi positif untuk melawan provokasi,”kata Rasman diakhir khutbahnya.
Komentar