Di Bawah Lumpur Aceh Tamiang dan Kerja Sunyi Para Relawan
GUMPALANNEWS.COM I Kuala Simpang - Bau lumpur masih menggantung di udara ketika matahari perlahan naik, menyinari dinding kusam yang tak lagi bersih seperti sedia kala. Garis-garis cokelat di tembok menjadi saksi bisu seberapa tinggi air pernah menguasai ruangan ini.
Dahsyatnya banjir bandang yang terjadi pada 27 November lalu itu terlihat jelas. Lumpur masih setinggi betis orang dewasa, dan telah mulai mengeras. Langit-langit ruangan rusak dan jebol. Rangka plafon terbuka dan bergelantungan.
Di bagian atas dinding tergantung tiga bingkai: dua foto resmi tokoh negara di sisi kiri dan kanan, serta lambang Garuda di tengahnya. Bingkai-bingkai itu terlihat miring dan kusam dengan jejak lumuran lumpur, diam, kaku, dan tak berdaya menghadapi amukan alam.
Di ruangan tersebut, sejumlah pria mengenakan sepatu bot karet terlihat bekerja sama membersihkan sisa lumpur menggunakan alat seperti sekop, pacul, dan wiper lantai. Ada pula yang sedang berjibaku mengeluarkan meja, kursi, papan tulis, buku-buku, dan peralatan laboratorium yang telah hancur.
Pada caption ini, terdapat pemandangan yang paling menyayat perasaan. Ya, seorang relawan terlihat sedang membersihkan lembaran Al-Qur'an yang terendam lumpur dengan secarik kain. Disampingnya, terlihat tumpukan buku, dan kertas-kertas yang menggumpal, menyatu dengan lumpur menghapus tulisan dan angka yang pernah bermakna.
Mereka adalah relawan dari Kesbangpol Aceh, ASN Pemerintah Aceh yang ditugaskan untuk membersihkan tempat ini, SMP 1 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang. Selain Kesbangpol Aceh, juga terdapat sejumlah SKPA yang diterjunkan di sekolah ini, serta ribuan ASN lainnya yang ditugaskan membersihkan fasilitas publik seperti ini.
Pakaian mereka penuh dengan noda lumpur, peluh membasahi sekujur tubuh. Meskipun ekspresi dan bahasa tubuh sedang mengalami letih yang luar biasa, namun kebersamaan mereka menunjukkan semangat pemulihan agar keadaan ini segera berakhir. Dengan penuh dedikasi dan ketulusan, tangan mereka terus bekerja dan menolak menyerah pada letih.
Tidak ada seragam, tidak ada jabatan. Yang ada hanyalah kebersamaan yang saling membantu. Beberapa tampak kelelahan, bahu mereka sedikit membungkuk, napas tersengal.
"Apalagi yang bisa kita beri bang, selain semangat berbagi dan menyumbang tenaga seperti ini. Apa yang sudah diarahkan pimpinan terhadap kami sudah tepat sekali, inilah yang seharusnya kita lakukan sebagai abdi negara," ucap salah seorang relawan, Harda, di sela-sela kesibukannya membersihkan ruang pustaka. Napasnya tersengal-sengal, peluh menetes deras dari wajahnya.
Di sekitarnya terlihat perabotan rusak seperti meja, lemari, gerobak dorong, dan tumpukan buku atau dokumen yang hancur akibat air. Keadaan tersebut menciptakan suasana pasca-bencana yang kacau dan berat.
Di luar bangunan, pemandangan kehancuran terlihat lebih gamblang. Air berlumpur masih menggenang, memantulkan cahaya matahari yang terasa menyilaukan. Perabotan seperti meja, lemari, dan kursi, tergeletak tak beraturan, seolah dilempar begitu saja oleh arus deras banjir.
Ditengah situasi tersebut, terlihat seorang pria duduk termangu di seberang jalan. Pandangan matanya nanar dan kosong. Guratan wajahnya menunjukkan kepasrahan atas apa yang sedang terjadi. Ia mengaku rumahnya masih digenangi lumpur setinggi betis dan belum mampu dibersihkan.
"Gimana mau dibersihkan dengan lumpur segitu tebal bang. Kita gak punya alat dan sumber air untuk membersihkan lumpur," ujar Anto, seorang warga lokal.
Dalam obrolan tersebut, ia menceritakan betapa dahsyatnya ketika bencana itu terjadi. Laki-laki ini mengaku hanya fokus menjaga anak istrinya dan tak mampu menyelamatkan harta benda yang dimiliki.
"Semuanya habis bang, gak ada yang bisa digunakan. Di kepala ku cuma mikir anak istri," ungkap Anto.
Dalam kesempatan itu, Anto meluapkan kekesalannya pada sejumlah pihak yang menyebutkan bencana banjir Aceh Tamiang hanya terlihat 'wah' di media sosial.
"Kalau bukan periuk nasi mu yang diterjang banjir, kalau bukan ibu mu yang meninggal, kalau bukan rumah mu yang hilang, kalian tidak akan paham dengan sakitnya pada saat bencana itu," ujar Anto, mengutip kalimat seorang akademisi UGM yang sempat diwawancarai sebuah televisi nasional beberapa waktu lalu.
Ditengah kepungan lumpur, puing, dan kelelahan yang belum usai, kehadiran negara menjadi harapan yang paling dinanti, bukan sekadar dalam bentuk kunjungan atau pernyataan. Bagi mereka yang terdampak, perhatian negara bukan soal janji, tetapi tentang seberapa cepat dan serius luka ini diobati.
Bencana ini telah merenggut banyak hal, namun tidak boleh merenggut masa depan. Di ruang-ruang kelas yang hancur dan di rumah-rumah yang tertimbun lumpur, negara diuji untuk hadir sepenuhnya, mendengar jeritan warganya, dan berdiri bersama mereka hingga benar-benar pulih. Dibalik setiap genangan lumpur Aceh Tamiang, ada manusia yang menunggu kepastian bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kehancuran ini.